NOTE24.ID – Polemik terkait penyelesaian sisa pinjaman almarhum Ismail Biladali kembali mencuat di wilayah Tilamuta.
Keluarga mempertanyakan kejelasan pihak Bank Rakyat Indonesia (BRI) setelah munculnya penagihan baru, meski almarhum telah meninggal dunia sejak tahun 2020.
Permasalahan ini berawal dari proses klarifikasi yang dilakukan pihak keluarga terkait status kredit almarhum. Dalam proses tersebut, Kepala Unit BRI Tilamuta, Yanwar Zakaria, disebut menyarankan agar pembayaran sisa kredit tidak dilakukan melalui layanan BRILink, melainkan langsung ke kantor bank.
Saran tersebut memicu tanda tanya di kalangan keluarga. Pasalnya, Yanwar menyebut bahwa pembayaran melalui BRILink dapat membuat bunga “terbaca bagus oleh sistem”.
Pernyataan ini dinilai membingungkan dan menimbulkan kecurigaan terkait transparansi sistem pencatatan kredit di bank.
Kasus ini turut melibatkan istri almarhum, Siri Bouty, yang kini dalam kondisi memprihatinkan karena mengalami keterbatasan penglihatan. Bersama anak-anaknya, ia berupaya mencari kejelasan atas status pinjaman tersebut.
Sebelumnya, keluarga mengaku telah melengkapi berbagai dokumen penting, termasuk surat keterangan kematian dari pemerintah desa dan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil. Bahkan, pihak bank disebut telah mendatangi keluarga untuk proses klaim asuransi yang sempat ditandatangani pasca wafatnya almarhum pada 2020.
Namun, secara mengejutkan, penagihan kembali muncul pada tahun 2026. Hal ini memunculkan dugaan adanya ketidaksesuaian dalam proses administrasi maupun sistem pembiayaan yang diterapkan.
Keluarga pun mempertanyakan keterbukaan data dari pihak bank, khususnya terkait alasan teknis di balik anjuran pembayaran langsung ke kantor dan bukan melalui BRILink.
Mereka berharap tidak ada informasi yang ditutupi dalam proses penyelesaian kredit tersebut.
Di tengah situasi ini, kondisi kesehatan istri almarhum yang semakin memburuk menjadi perhatian tersendiri.
Pihak keluarga berharap BRI dapat memberikan penjelasan yang transparan serta mengambil langkah bijak dan manusiawi dalam menyelesaikan persoalan yang telah berlarut-larut ini.
Taufik Bouty











Comment